Di tengah semesta yang maha luas ini, organisme berwujud manusia hanyalah bagian kecil yang menumpang hidup. Seperti kutu rambut yang tenggelam di rimbunnya hutan belantara, atau bahkan lebih kecil –bisa jadi, kutunya kutu rambut. Namun manusia yang kecil mungil itu, sepecundang-pecundangnya ia, tetap juga seorang pemenang.
Mungkin ini hanyalah cerita basi, betapa banyak referensi yang mengupas tentang keajaiban manusia, namun tetap saya tak terhenti merasa takjub. Manusia memang ditakdirkan menjadi pemenang, meski sering merasa sial dalam berbagai hal.
Tak ada yang bisa menyangkal, hidup adalah medan pertempuran yang dahsyat. Makhluk-makhluk beradaptasi dan berevolusi agar bisa tetap terlihat nyata. Semua organisme berkembang mengikuti seleksi alam yang tak kenal kompromi. Siapa yang tak mau menerima perubahan harus bersiap-siap tergerus dari eksistensi. Terhapus dari sistem, seperti terhapusnya makhluk-makhluk purba dan paham-paham kuno yang usang.
Zaman terus berlari dan semestalah yang memilih. Semenjak bumi pertama diciptakan, semenjak itulah perlombaan hidup dimulai. Yang paling cepat beradaptasi, sensitif terhadap perubahan dan mempunyai mata futuris, ia lah yang berada di garis terdepan.
Mungkin anda pernah mengingat wujud televisi di tahun 60-70 an? Pertama kali benda ini merambah masuk kedalam negeri, serasa suatu keajaiban, sebuah kotak yang bisa menampilkan gambar hidup, meski belum berwarna dan masih dioperasikan manual. Sekarang, benda ini hanya pantas berada di pasar loak.
Begitu juga yang terjadi dengan radio transistor kuno, mesin tik, kamera kuno dan piringan hitam beserta gramofonnya. Semua benda yang sudah ditinggalkan zaman dan tak lagi dilirik eksistensinya, bahkan untuk mengingatnya kembali pun susah. Inilah barang-barang yang kalah dalam persaingan hidup, istilah kasarnya, menjadi pecundang yang tak lagi banyak berguna.
Seperti itukah manusia yang tertinggal? Mereka yang tak banyak tahu dan tak lagi punya banyak kemampuan akhirnya akan tersingkir dan hilang dalam gelombang zaman. Di obral seperti apapun tak ada yang mau menggunakannya. Karena keterbatasan dan kolotnya pemikiran, karena sudah terengah-engah berkompetisi.
Mereka bukan hanya terancam menjadi pecundang, tapi juga terancam kehilangan identitas diri. Merasakan kesendirian dan teralienasi dari roda sistem yang berputar, kehilangan esensi serta keinginan untuk berbagi. Padahal, bila mereka tak bisa berbagi atau, tak punya kemampuan untuk berbagi, apa gunanya mereka hidup?





wah, tulisan yang bagus, mas syam, tapi sekaligus juga menohok eksistensi kita sbg manusia, hehehehehe
saya kira tidak salah, mas syam, manusia memang makhluk yang dhaif. tapi di dalamnya terjandung dua kekuatan sekaligus, sebg pemenang dan sekaligus juga sbg pecundang. hal ini juga sangat dipengaruhi *halah sok tahu* kualitas jatidiri kita; siap berkompetisi atau berdiam diri. kalau siap berkompetisi, bisa jadi predikat sbg pemenang itu akan diraih. waduh, siap nggak yah utk berkompetisi? hehehehe
allow mas syam. salam kenal juga ya dari saya. ya beginilah saya, memang orang baru di dunia blog. oleh karena itu mohon bisa tukar pikiran dengan saya ya!!!!!!!!!!!!!
Asl.
Benar sekali mas, benar sekali. satu pertanyaan yang sangat menggilitik sy, yaitu
“Padahal, bila mereka tak bisa berbagi atau, tak punya kemampuan untuk berbagi, apa gunanya mereka hidup ?
yup, inilah disinilah sebenarnya letak kebahagiaan itu, ketika kita bisa berbagi dan memberi manfaat pd orang lain…hingga kita tidak punah begitu saja, slalu ada nama yang harum untuk dikenang. Lihatlah Abu Bakar As-Sidiq, sahabat yg mulia, dia manusia paling berguna diatas bumi ini, lewat perantara ia manusia banyak beriman pd Allah. Pahalanya mengalir sampai hari ini di seluruh penjuru dunia. Subhanallah…
nice posting mas, sy copy boleh ? buat bacaan dan mengingat-ingat.
sy link ya mas. salam persahabtan slalu.
pemenang dan pecundang hanya beda tipis, dan sayangnya terkadang hanya dinilai dari materi yang dipunya
Tapi memang itulah realita dunia, nilainya berdasar uang. Barangkali pemenang sejatinya adalah manusia yang tak dikuasai uang tapi mereka yang menguasai uang.
*ehm nyambung ngga sih
yuk kita berbagi dalam kebaikan..
nice post, mas
manusia ditakdirkan sebagai pemenang…
tapi kadang manusia terlalu kufur untuk menyadari kemenangan yang udah diraih
eh tapi apa yang pecundang dapat dianggap sebagai pemenang juga, mas?
intinya, hidup ini saling berbagi, namanya juga manusia itu makhluk sosial, bukan hanya sesama manusia, melainkan kepada sesama makhluk ciptaan Tuhan juga perlu berbagi…
salam, thx atas kunjungannya mas
Hidup memang harus seimbang, manusia harus belajar terus menerus untuk menemukan dan mendapatkan sesuatu yang berguna bagi makhluk hidup…
mas, tulisan nya bagus …..berisi
@ Sawali: ya…sebenarnya manusia makhluk yang dhaif pak sawali, tanpa ada kekuatan dari yang maha pengatur, bukan hanya manusia, semuanya bukanlah apa-apa.
tapi terkdang yang luput disadari, dibanding makhluk lainnya, kita adalah pemenang.
Tapi benar sekali, semua itu kembali tergantung dari kemauan kita, apakah berani berkompetisi atau tidak? dan itu juga yang akan menentukan kualitas jati diri kita sendiri..
@ Farhan: Woow..diikuti Farhan? sebuah kehormatan bagi saya.
@ Alex: Pendapat anda menjadi referensi bagi saya mas Alex, akan saya simpan untuk bekal postingan selanjutnya. Tentu saja boleh di link, blog anda juga luar biasa, kayaknya juga penggemar Harun Yahya nih. he..he
@ KabariHari: terima kasih, pendapat anda malah menyalakan “lampu ide” di kepala saya, uang sekarang punya banyak bentuk, tanah, rumah, waktu, semua itu adalah uang. Seolah-olah kita hidup dikelilingi uang, tapi bagaimana “memilikinya” ? dan tidak dikuasai olehnya? patut menjadi bahasan lebih lanjut..Itulah hebatnya jaring kehidupan mas Hari, semuanya pasti saling berhubungan.
@ Hanggadamai: terima kasih mas Hangga”Damai”, semoga selalu damai dan mari kita bagi sama-sama kebaikan
@ Wenny Aulia: bagi saya mbak, istilah pecundang sangat relatif hukumnya. Saya nggak tahu “pecundang” seperti apa yang dimaksud, tapi bila perasaan menjadi “pecundang” sering dirasa, itu hal lumrah dalam hidup.
Terkadang kita jatuh hingga dilecehkan orang membuat kita gugur kedalam perasaan sebagai “looser”,namun saya percaya, itu semua hanya sebuah fase yang melengkapi hidup dan akan berlalu ditumpuki pengalaman-pengalaman lainnya.
@ OktaSihotang: Setuju bung Okta..hidup berbagi selalu dalam kebaikan
@ Edratna: Menarik, konsep keseimbangan memang akan jadi bahasan saya selanjutnya..terima kasih kunjungannya mbak Edratna
@Nexlaip: terima kasih, saya juga suka blognya…Dunia Hanya Sementara…