10
Mei
08

Jantung yang Menemani Otak Kita

Sebuah opini dari kawan ngeblog membuat saya tertarik:

Human is indeed superior to other species on this planet. Human does not possess sharp teeth like tigers do nor have enormous power like elephants do, Human does not possess great velocity when he is running…. but human is gifted with the most powerful weapon: his brain!

Yes this thing called human’s brain is the most wonderful creation in the universe! This brain makes our species outdo any other species! this brain also shapes the ecosystem in this planet. We can easily destroy the natural habitats of other species resulting in the imblance of the nature which eventually will devour our own habitat! But we can maintain our ecosystem by saving other species from extinction.

Yes, you are very right, human is the winner in almost all cases, but this triumph should not turn us into a neglectful species for this neglectful state will eventually push us into our own demise which means it will turn us from the great winner into the notorious loser!  ”

Kira-kira kalau diterjemahkan :-) :

Manusia memang makhluk yang lebih superior dibanding spesies lainnya di muka bumi. Manusia tidak mempunyai gigi tajam seperti harimau, kekuatan seperti gajah, dan kecepatan yang luar biasa saat ia berlari, namun manusia diberkahi senjata yang paling hebat: Otaknya.

Otak manusia dianggap sebagai ciptaan yang paling indah di alam semesta. Otak ini pula yang mengalahkan spesies lainnya dan membentuk ekosistem di planet ini. Kita bisa dengan mudah menghancurkan habitat alam dari spesies lainnya hingga menyebabkan ketidakseimbangan, akibatnya, bisa mengganyang habitat kita sendiri. Tapi kita juga bisa memelihara ekosistem alam dengan melindungi makhluk lainnya dari kepunahan.

………Manusia ialah pemenang di hampir semua keadaan, tapi kedigdayaan juga tidak mesti mengubah diri kita menjadi makhluk yang sembrono dan menjadi bumerang menuju kematian, yang berarti juga, mengubah diri kita dari pemenang menjadi pecundang buruk.

Saya sangat bersepakat dengan sohib Yari yang menyatakan tentang kedigdayaan otak. Otak manusia memang komponen yang sangat luar biasa, terbentuk dari 1 triliun sel, 100 milyarnya aktif dan 900 milyarnya pendukung.

Dengan “processor” inti bernama nukleus, mereka bekerja dengan cara membentuk kaitan yang sangat kompleks satu dengan lainnya, menginterpetasikan sesuatu yang acak menjadi bau, suara, serta rasa hingga menjadi inti kesadaran manusia dalam memaknai hidup.

Namun jika boleh menambahkan, dalam membangun tubuh kita, otak juga memerlukan pendamping yang setara. Nah, inilah sesuatu yang menurut saya juga memiliki kekuatan luar biasa, sehingga manusia bisa disebut sebagai “extraordinary creature”karena memilikinya.

Organ itu bernama bernama  jantung (sering diplesetkan dengan istilah hati). Jantung yang juga menjadi pusat dari ketenangan serta fitrah dari manusia yang sebenarnya, pemberi kontribusi yang tidak sedikit hingga manusia mendapati dirinya dalam kemampuan tertinggi yang disebut intuisi.

Dalam proses pembentukan bayi, jantung yang terlebih dahulu berdetak sebelum otak manusia terbentuk, organ ini  menjadi pemrakarsa utama hidup matinya “sang pemenang”.

Jantung juga memiliki medan elektromagnetik 5000 kali lebih besar dari otak dan 40 ribu sel tersendiri didalamnya, menandakan kalau ia memiliki sistem tersendiri yang juga disebut “otak didalam jantung”.

Di antara banyaknya referensi tentang kehebatan otak manusia, saya ingin mencuatkan informasi, tanpa adanya medan energi yang dikirimkan jantung ke otak, manusia “muskil” merasakan kedamaian dan ketenangan.

Hal inilah yang mendukung secara ilmiah, jantung adalah tempat bersarangnya jiwa manusia, yang jika bergabung dengan otak kemudian akan membangkitkan 88% kekuatan bawah sadar yang sering di sebut-sebut itu.  

Fenomena inilah yang  kemudian disadari, hingga melahirkan istilah-istilah IQ, EQ dan SQ. Kenapa EQ digolongkan lebih baik daripada IQ? Dan kenapa SQ menjadi lebih baik dari EQ dan IQ? Karena menurut saya, IQ dan EQ belumlah cukup, keduanya masih berkaitan dengan logika dan cara kerja otak dalam versi tersendiri mencerna kehidupan.

Dalam keadaan banyaknya manusia yang merasa kebingungan mencari arti kehidupan yang ia jalani, didalam aspek SQ sesuatu itu bisa ditemui, sesuatu yang bisa membut diri merasa sadar dan terbimbing menuju pencerahan. Hal ini tak lain, karena SQ mengkaji hati, tempat dimana jiwa manusia ditempatkan. 

Kalau kita bertanya pada diri sendiri, lebih menyukai orang yang bodoh tapi hatinya jujur dan baik? Atau seorang teknokrat /intelektual yang suka menyombongkan ilmunya?
Wow… saya kira itu sudah menjawab pertanyaan dan cara kita mengukur kekuatan manusia, apakah lebih menyukai pekerjaan jantung (hati) atau otak? Jadi, setujukah anda? kalau jantung merupakan teman sebanding dengan otak dalam membangun eksistensi kita.

 


15 Tanggapan ke “Jantung yang Menemani Otak Kita”


  1. 1 proletarman
    Mei 10, 2008 pukul 6:19 am

    keduanya harus bersinergi, ga ada yang lebih baik. Klo salah satu ngambek bisa kwalat. Tapi indikator matinya seseorang bukan berhentinya denyut jantung lho, tapi matinya batang otak. Jadi mana yang lebih penting??? hehehehe
    salam kenal

  2. Mei 10, 2008 pukul 6:33 am

    jelas stuju kalau jantung merupakan teman sebanding dengan otak dalam membangun eksistensi kita.
    takutnya kalo g se7, ntar jantung mogok kerja kan repot :D

    salam kenal boss.

  3. 3 edy
    Mei 10, 2008 pukul 8:31 am

    emang mestinya seimbang antara otak dan hati eh jantung yak :)

  4. Mei 10, 2008 pukul 9:25 am

    Bahasan bagus. Yang seperti ini bagus untuk pengetahuan. selamat.

  5. 5 tonifebruari666
    Mei 10, 2008 pukul 11:18 am

    heee siip lah….ajari lagi lah tentang wordpressnya.

  6. Mei 10, 2008 pukul 12:03 pm

    postingan yang bagus, mas syam, mengingatkan kita betapa otak kita mampu meraih harapan dan mimpi2 yang hampir mustahil sekalipun. hal itu sangat ditentukan bagaimana kita memamnfaatkan akal dan otak kita itu. walah, kalau disuruh memilih, orang yang bodoh tapi jujur, atau orang yang pintar tapi suka bohong, hiks, kalau saya malah lebih suka orang yang pintar, tapi jujur dan rendah hati, kekekekeke :lol: mensinergikan antara jantung dan otak. *halah*

  7. Mei 10, 2008 pukul 3:12 pm

    Wah….. bahasannya menarik deh! Hehehehe….. Tapi ada dua hal yang perlu saya luruskan di sini.

    Pertama: Menurut ilmu pengetahuan modern, perasaan itu juga disimpan di dalam otak dan BUKAN disimpan di dalam jantung! Fungsi jantung sendiri hanyalah untuk memompakan darah ke seluruh tubuh tapi si jantung ini TIDAK BISA menyimpan dan mengendalikan perasaan. Hanya penyairlah yang mengatakan bahwa hati itu adalah tempatnya perasaan, ya itu hanyalah figuratif dan bukan sebuah keaktualan. Jadi perasaan menurut sains modern juga diatur dan di simpan di dalam otak, hanya saja penyimpanannya dan juga pengaturannya tentu di tempat atau di bagian yang berbeda dari belahan otak tempat kita menggunakan intelegensia kita seperti jikalau kita mahir matematika, logika dan lain sebagainya. Jadi persepsi bahwa perasaan itu di simpan di dalam jantung atau hati (liver) adalah persepsi yang SAMA SEKALI KELIRU. Mungkin kita banyak yang terkecoh dengan 2 contoh kalimat dalam Bahasa Inggris ini:

    She had heart attack last month, the doctor tried to save her life but her HEART gave out and she died the next day

    She has turned down my love, and now my HEART is broken

    Nah, kita melihat bahwa di kata pertama kata “HEART” berarti jantung fisik kita yang berdetak tanpa henti memompakan darah sedangkan kata “HEART” yang kedua adalah berarti hati (bukan hati liver tetapi hati perasaan. Di sini meskipun sama2 menggunakan kata “HEART” tetapi jelas keduanya merujuk pada benda yang berbeda. Jikalau kita membuka kamus Bahasa Inggris seperti Merriam-Webster’s atau Oxford Advanced Learner’s Dictionary kata “HEART” di situ akan mempunyai banyak arti. Jadi jelas perasaan bukan di simpan dan dikendalikan oleh hati tetapi tetap di dalam otak! Itulah yang menyebabkan otak manusia sangat istimewa walaupun tentu saja jantung juga sesuatu hal yang sangat istimewa karena mesin alamiah itu terus memompa darah kita tanpa pernah henti !! :D

    Kedua: mengenai SQ, EQ dan IQ. Di atas disebutkan bahwa EQ lebih baik daripada IQ. Literatur2 terbaru TIDAK lagi menyatakan seperti itu. Yang benar adalah EQ sama pentingnya dengan IQ di segala macam tingkatan pekerjaan. Daniel Goleman (bisa cari sendiri di Google) adalah termasuk orang yang pertama kali merumuskan model EQ, ia adalah seorang psikolog Yahudi, tapi ironisnya Goleman sendiri, orang yang memodelkan EQ, adalah orang yang mempunyai IQ yang tinggi! Dan ini dia menariknya, jikalau ia tidak mempunyai IQ yang tinggi, mungkin ia tidak akan pernah bisa memodelkan EQ ;) .

    Nah, bagaimana dengan SQ? SQ sendiri masih membingungkan bentuk modelnya, walaupun harus diakui bahwa SQ juga berperan penting dalam kehidupan manusia. Yang jelas memang SQ ini memang berkenaan dengan God spot, tetapi seseorang dengan God spot yang tinggi apa sudah pasti lebih baik? Maaf, contohnya adalah FPI, yang tentu God spot-nya tidak rendah tetapi toh banyak menimbulkan kekacauan, kekerasan atas nama agama, dan banyak tidak menarik simpatik banyak fihak. Nah, untuk itu perlu pemodelan yang baku dulu untuk SQ sebelum kita mengetahui kedudukan SQ itu. Ok segitu aja…… :D

  8. Mei 12, 2008 pukul 2:45 am

    ass.

    Subhanallah……….bahasan yang benar2 luar biasa mas..
    antara IQ, EQ dan SQ harus seimbang.

  9. Mei 12, 2008 pukul 9:52 am

    diriku pilih yg intelektual tapi gak sombong, jujur dan baik hati.. :)

  10. 10 SQ
    Mei 12, 2008 pukul 2:22 pm

    @ Proletarman: thanks atas kunjungannya, benar sekali, keduanya sama penting untuk kehidupan. kalau salah satunya macet, bisa berabe dah :mrgreen: matinya batang otak? wah…nyang satu ini kayaknya saya harus kaji lagi bung Proletar? :-)

    @ Trijokobs: :-) artinya jantung perlu bahan bakar murni biar nggak mogok bang Trijokobs :mrgreen:

    @ Edy: Yap..setuju..semua dalam hidup kan memang sudah disetting dalam keseimbangan mbang Edy :-)

    @ Ersis Warmansyah Abbas: Terima kasih pak ersis, modon doanya, mudah-mudahan nggak “mati muda” kayak kemaren :mrgreen:

    @ Tonifebruari666 : ah..situ terlalu merendah, tampilan blognya dah bagus kok..

    @ Sawali : otak (memang benar adanya) bisa mewujudkan mimpi yang tampak mustahil sekalipun. Pak sawali bisa aja :lol: , saya juga pengen jadi oranga seperti itu.
    (P.S..selamat atas peluncuran kumpulan cerpennya)

    @ Yari. N.K : thanks allready get de invitation,..luar biasa mas Yari, tambahan informasi ini jelas menambah referensi saya (deeper 4 dis subject)
    namun saya jadi tergelitik menambahkan, mumpung mas Yari masih suka main kesini :lol: :

    memang beragam persepsi muncul tentang perasaan/pikiran, benar adanya, zaman dahulu, aristotle beranggapan untuk berpikir dan berperasaan manusia menggunakan jantung (heart). Sekarang perspektif itu makin berkembang, terutama setelah adanya temuan pembagian gelombang otak, Beta, Alfa, teta, dan delta.

    Gelombang otak yang paling hebat, yang membawa kita ke fase meditatif dan memunculkan ide-ide luar biasa ialah teta. Nah..di teta ini jug, beberapa ilmuwan mengklaim terletaknya kekuatan yang luar biasa.

    Ada cerita tentang pelantikan biksu tibet kan? dimana untuk menjadi seorang biksu sejati, seseorang harus berdiam di gunung salju beberapa waktu tanpa memakai baju. Mereka hanya diperintahkan untuk “berpikir” kalau mereka sedang duduk di atas bantal yang hangat, uniknya, banyak diantara mereka berhasil dan ditempat mereka duduk, ditemukan bekas salju yang meleleh seperti ada yang cetakan tulang ekor yang menyala.

    Demikian juga cerita tentang “the miracleof Andes”, dimana para korban bisa bertahan hidup di gunung salju hanya dengan minu air es dan memakan daging teman mereka yang mati. tapi mereka bisa hidup lebih dari satu bulan?! kekuatan otak yang bisa menimbulkan perasaanluar biasa, bisa membuat mimpi menjadi keyataan.

    Namun mas Yari :-) ,tak sedikit pula ilmuwan yang menyatakan bila jantung itu punya otak sendiri yang bekerja tanpa perlu menunggu perintah dari otak. bahkan sampai-sampai ada istilah “think with yout heart”, yang dimaksud adalah jantung didalam dada kita.

    Namun tentu saja kita tidak mempermasalahkan hal tersebut, intiya, bagaimana memaknai itu sehingga menjadi kekuatan dan menjadi semangat hidup bagi kita semua ;)

    ————————

    IQ dan EQ seimbang? tentu saja hal itu jauh lebih bagus daripada hanya salah satunya.
    kita memiliki pikiran yang sama mas :-) , (heleh so’ so’an), tanpa IQ yang mumpuni, Goleman tidak akan bisa menelurkan konsep EQ. Mengingat untuk melahikan konsep, kita memerlukan cara kerja otak yang sistematis dan terperinci (ini pekerjaannya otak kiri). Baharu kemudian otak kanan menambahi dengan kemampuannya berimajinasi, serta merta melahirkan referensi tambahan serta inovasi.

    Benar mas, SQ berkaitan erat dengan GOd-Spot yang berarti (keyakinan tentang fitrah diri), G.S ini pula yang kemudan membimbing menuju ZMP (Zero Mind Process) yang digadang-gadang sebagai konsep SQ.

    kita dipinta untuk berpikir kosong, mengandalkan bisikan hati yang fitrah. Terbebas dari prasangka bahkan pengalaman. Uniknya, ZMP tidak mengenal religi tertentu, siapa saja bisa ber ZMP selama ia bisa mengenali suara hati nuraninya.

    Jadi kalau ada suatu perkmpulan yang sering membuat kekerasan, bukan dengan dasar yang kuat, apalagi sampai mengatasnamakan agama, saya tidak yakin mereka bisa ber ZMP.

    senangnya bisa berdiskusi :-) :-) :-)

    @ Alex Abdillah: terimakasih kunjungannya mas Alex, sekedar berdiskusi aja :-) , begitulah adanya, alam seyogyanya memang diciptakan seimbang oleh sang penguasa semesta

    @ Hanggadamai:sayajuga mau mah seperti itu mas… :mrgreen:

  11. 11 syaharuddin
    Mei 13, 2008 pukul 12:26 am

    setuju mar, spritual question (SQ) akan menyeimbangkan seseorang yang sudah matang IQ dan EQ nya. Karena itu, orang yang matang ketiga hal itu kesuksesan yang sesungguhnya akan icapai. Yakinlah…!

  12. Mei 13, 2008 pukul 2:17 am

    Hehehe…. ini ada pelurusan sedikit saja lagi…. :D

    Kalau ilmuwan mengatakan: “jantung punya otak sendiri” itu sepertinya hanya kiasan saja. Karena sebenarnya jantung berdetak sendiri tanpa difikir itu karena dia merupakan involuntary muscle, wah Bahasa Indonesia resminya apa ya?? Saya kurang tahu hehehe….. yang jelas involuntary muscle ini mirip dengan gerak refleks yang memang diatur tidak dengan otak kita. Sebenarnya kejadian ini nggak aneh, karena tubuh kita juga banyak mengandung involuntary movement ini di antaranya adalah gerak peristalsis usus kita. Gerakan usus inilah yang menyebabkan, walaupun kita misalnya berdiri terbalik dengan tangan dan kepala di bawah serta kaki di atas selama 24 jam, makanan yang sudah di dalam perut tetap akan berjalan menuju anus dan tidak meluncur kembali ke bawah ke arah mulut! Huehehe….. :D

    O iya Zero Mind Process ini, saya sekilas memang pernah baca, tapi konsep ini belum diakui secara internasional sebagai model baku daripada SQ dan cara “pengukuran” tinggi rendahnya SQ dengan menggunakan konsep ini juga belum begitu valid dan jelas. :D

  13. 13 SQ
    Mei 13, 2008 pukul 12:34 pm

    @ Syaharuddin : terima kasih pak Syaharuddin sdah menyempatkan waktunya, kalau matang dan pintar dalam ke 3 hal tersebut… sangat luar biasa, mungkin nanti saya bisa jadi seperti itu :mrgreen: (halah so’ soan)

    @yari N.K : wah..dads cool, coba sekalian aja hatricknya mas Yari, :mrgreen:

    involuntary muscle? mungkin itu yang dimaksud “otot bawah sadar”. ya, saya memang pernah membaca kalau otot ini pula yang bekerja refleks pada tubuh kita.
    Namun selebihnya, saya belum tahu terlalu dalam.

    Sepanjang itu pula mas :-) , ZMP saya temui sebagai inti dari SQ, namun perihal admittance nya, :mrgreen: (cuma bisa nyengir)

    thanx 4 de comments, it’s really marvelous

  14. Mei 14, 2008 pukul 12:02 am

    O iya… Bahasa Indonesianya “otot bawah sadar” kali ya?? Maklum deh…. kalo ngomong dengan istilah2 asing jarang repot2 nyari padanan Bahasa Indonesianya! Seperti kata “mouse” atau “flash disk” aja… hehehe…….

    Oooo…. belum ada postingan baru?? :mrgreen:

  15. 15 SQ
    Mei 14, 2008 pukul 9:51 am

    Yap… saya juga kadang suka heran dengan istilah yang kadang “nggak nyam-nyam” itu… :mrgreen:

    hatrick nih ceritanya :-) , saya baru bikin postingan baru ntuh…


Tinggalkan Balasan