14
Mei
08

(Sebuah Renungan) Karena Manusia Tak Sempurna

Waktu itu sore hari jam tiga, saya baru saja habis berkunjung kerumah tetangga, menghadiri selamatan kelahiran anak yang pertama. Tepat saya mau menyeberang jalan, lewat truk-truk besar berwarna kuning yang mengangkut segerombolan manusia, mereka berteriak-teriak riuh, tak jelas, dengan parang dan celurit teracung-acung di atas kepala.

Hati saya seolah ingin melompat, ada apa gerangan? Selama 15 tahun saya menghuni Banjarmasin, peristiwa demikian tidak pernah terjadi. Kemana polisi yang mestinya menertibkan mereka? Dan kenapa warga disekitar saya juga sama hanya diam mematung, tak berani mengambil tindakan apa-apa.

Saya berlari menyeberang begitu jalanan sepi, menerobos kedalam rumah, yang sudah dihantui suasana mencekam. Kakak saya membawa kabar terjadinya pergerakan massa dalam jumlah besar menuju pusat kota B. Masin, dengan perbekalan berbagai senjata tajam, jelas mereka berniat tidak baik.

Benar saja, tak lama malam merayap, kerusuhan akhirnya pecah. Saya tak tahu mesti bersyukur atau tidak, kejahatan massal itu jauhnya puluhan kilometer dari tempat saya. Dengan diiringi pemadaman listrik, Banjarmasin serasa seperti kota hantu. Jalanan sunyi seyap, seolah hanya setan yang berani muncul menampakkan diri.

Besoknya, saya berkunjung kerumah teman yang kakaknya sempat merekam peristiwa kerusuhan tersebut. Begitu menyeramkan dan ironis, nampak orang-orang mengacung-acungkan arit dengan latar dept. Store yang terbakar, beberapa orang saling berkejaran dengan darah yang berceceran, sementara yang lainnya hanya acuh membawa barang2 seperti tv dan kipas angin.

Kakak teman saya itu, ia juga bercerita kalau tidak bisa berbuat banyak menyaksikan kelaliman. Pelucutan baju, pengeroyokan, pemerkosaan terhadap penduduk yang berbeda etnis, hingga pembakaran hidup-hidup. Teriakan kasar, pilu, hingga tangis seolah jadi nyanyian merdu yang terus diperdengarkan malam itu.

…………………….

Mengingat kejadian tersebut sering membuat saya termenung. Menggelitik pemikiran terdalam dan mengetuk pintu sanubari saya, bagaimana mungkin manusia bisa berlaku sedemikian keji? atau memang begitukah sifat asli dari “sang pemenang”, yang sudah mendapat kehormatan dilantik dengan istilah “khalifah” di muka bumi oleh sang penguasa alam?

Ya, akan banyak sanggahan serta argumen muncul dalam perasaan. Menanggapinya saya punya perspektif sendiri yang ikut mewakili citra diri saya kemudian. Sangatlah simpel, menurut saya, semua kekejian itu bisa terjadi karena manusia adalah khalifah yang cacat (ilmuwan, mereka lebih betah memakai istilah “robot yang cacat”)

Yap, begitulah. Meskipun manusia (diri saya) dipercaya memiliki mahkota luar biasa berupa otak, jantung yang berdenyut ajaib, sistem imun yang bekerja rapi menjaga pertahanan tubuh, mekanisme penyembuhan yang bisa berdiri sendiri, sampai “cetak biru” yang bisa diperbaharui. Tetap saja lisensi “sempurna” bukan milik kita manusia.

Kasus diatas bisa terjadi karena “cacatnya” otak. Sedemikian banyak alasan kekerasan dan tindakan anarkis yang merajalela, disebabkan manusia telah tergelincir dan tidak lagi berpikir berdasarkan kesadarannya yang tertinggi.

Begitu juga dengan kerusuhan tersebut, karena manusia telah jatuh kelevel pemikiran otak reptilia*, dimana saat itu manusia hanya berpikir tentang kelangsungan hidup, dorongan kenikmatan pada makanan, tempat tinggal, reproduksi, dan wilayah.

Padahal tujuan hidup manusia semestinya berbagi, kenapa saya berpandangan demikian? Merujuk dari pedoman hidup manusia yang saya yakini, Al Qur’an mengatakan “sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang berguna bagi yang lainnya”.

Nah…kalau manusia adalah makhluk sempurna. Jelas semua diantara kita akan memilih berada di level pemikiran yang tertinggi. Jadinya seluruh manusia berada di fase intelektual serta memiliki kecerdasan optimal, yang utamanya, akan memudahkan kita untuk tolong menolong serta bertukar informasi tanpa cacat.

Namun sayang,

Saya ingat syair lagu Radja:

(Karena)
Aku hanyalah manusia biasa
Yang tak pernah lepas dari khilaf
(tapi)
Ku mencoba merubah segalanya

Mungkin ada kesempatan untukku

Dalam kesempatan ini pula saya memohon maaf bagi blogger2 yang merasa tersinggung dengan postingan-postingan saya, secara pribadi lebih mendetail, kekurangan saya terkadang telmi hingga sering terjadi salah paham, :mrgreen: , tapi itulah manusia, tak ada yang sempurna.

——————————-

*= Dalam konsep pendidikan, otak garis besarnya terbagi tiga bagian (triune).
Pertama reptilia, disini level pemikiran paling primitif manusia berasal, orientasinya seperti yang telah disebutkan sehingga muncul istilah “hadapi atau lari” sebagai kiasan dari pola berpikir bagian otak ini.

Kedua mamalia, disini pula pelibatan emosi berasal, selain itu kemampuannya juga untuk menyimpan kemampuan belajar , memori, serta bioritme (metabolisme, sistem kekebalan).

Terakhir yaitu bagian otak Neo korteks yang mencapai tingkat pemikiran intelektual, keterampilan berbahasa, hingga kecerdasan yang lebih tinggi dalam memandang kehidupan.

Iklan

21 Responses to “(Sebuah Renungan) Karena Manusia Tak Sempurna”


  1. Mei 14, 2008 pukul 11:10 am

    anarkis..
    sungguh tidak beradab..
    ah… bakal banyak cacian dan makian yg keluar dr mulutku karena hal tsb..
    otak mereka sudah dikendalikan oleh syetan yg trkutuk!!

  2. Mei 14, 2008 pukul 10:51 pm

    Manusia terkadang bagaikan “homo homini lupus” bagi manusia yang lainnya… Pikiran-pikiran manusia terkadang tidak bisa dijelaskan dengan idiom-idiom yg humanis….

  3. Mei 15, 2008 pukul 7:38 am

    biasanya kalau tawuran, biasanya persoalannya adalah gengsi, prestise.
    tapi kalau di luar itu ya kejahatan yang terjadi karena beberapa faktor. mungkin karena faktor agama, faktor ekonomi, atau murni kriminal. untuk yang terakhir, bolehlah kita kutuk.

  4. 4 SQ
    Mei 15, 2008 pukul 8:03 am

    @ Hanggadamai: yap, seperti itulah manusia selemah-lemahnya manusia bung Hanggadamai 😦
    @ M. Rizky Adha : terima kasih atas kunjungannya 🙂 ..waaah.. “homo homini lupus”, saya lupa artinya tuh bung Rizky :mrgreen:
    @ Zulmasri : kejahatan itu terjadi karena faktor politik yang kental bang Zul, pemicunya antar pendukung parpol yang bertikai. Sangat menyedihkan memang, sering kejahatan terjadi juga, karena rakyat kita mudah terhasut hal-hal yang sangat tidak menguntungkan:-(

  5. 5 suhadinet
    Mei 15, 2008 pukul 11:48 am

    Waktu itu saya juga di Banjarmasin, masih studi di Univ Lambung Mangkurat.
    Wah benar-benar mencekam.
    Kok tega ya manusia berbuat demikian kepada manusia lainnya?

  6. Mei 15, 2008 pukul 3:11 pm

    Luka lama boleh boleh saja diingat-ingat sebagai bahan renungan.
    Yang harus dilakukan selanjutnya adalah belajar dari pengalaman.
    Tidak ada kedamaian yang tidak didahului oleh perang dan tidak ada kesejukan yang tidak didahului kepengaban.

    Jadi, berterimakasihlah dengan masa lalu!

    Tabik!

  7. Mei 15, 2008 pukul 10:59 pm

    Sungguh nggak bisa dipercaya ya….. di tengah peradaban yang sudah maju, di mana peradaban telah berorientasi pada pembangunan manusia dan lingkungannya, ternyata ada juga segelintir orang yang bertindak sebaliknya…. alias biadab……! Binatang saja, jarang yang membunuh spesiesnya sendiri!! Sungguh Ironis! 😀

  8. Mei 16, 2008 pukul 2:13 am

    Disitulah letak ‘kesempurnaan’ manusia, soal utamanya yang mana yang di-on-kan. Kalau kebiadaban yang di-on-kan, kalau meneriman saja yang di-on-kan ya … keberadaban, keberbagian, ya off melulu. Tergantung pilhan Si Manusia itu.

  9. 9 latifah04
    Mei 16, 2008 pukul 9:40 am

    Peristiwa masa lalu baik itu manis maupun pahit merupakan pelajaran bagi kita sekarang. Tapi saya setuju dengan apa yang di tulis, Al-Qur’an mengatakan “Sebaik-baik manusia adalah manusia yang berguna bagi yang lainnya”. Mari kita pahami dan kita amalkan apa yang telah disampaikan oleh Allah kepada hamba-Nya. Berbuatlah sesuatu yang bermanfaat bagi diri maupun bagi orang lain.
    Salam !!!!!

  10. 10 SQ
    Mei 16, 2008 pukul 11:50 pm

    @Suhadinet: seperti itulah bang Suhadi, kadang2 manusia bisa jatuh kedalam keadaannya yang paling kelam 😦

    @Zul: berterima kasih pada masa lalu, itu sudah pasti dengan menjadikannya pelajaran menatap masa depan…Tabik 🙂

    @yari:yah..tidak heran muncul istilah itu mas yari, manusia bisa turun derajatnya lebih rendah dari binatang 😦

    @Ersis: terima kasih atas inspirasinya pak ersis, hidup adalah titik bifurkasi atau pilihan yang bercabang-cabang, adalah kita yang memilih, ingin menjadi apa, siapa, dilevel pikiran yang mana.

    @Latifah: Salam!!! mari sama-sama berbagi dalam kebaikan bu latifah 🙂

  11. Mei 17, 2008 pukul 6:39 am

    yeap indeed!

    nobody’s perfect

    live the unperfection to makes perfect

    ah… lieur

    maap…

    i am unperfect 😀

  12. Mei 17, 2008 pukul 9:54 am

    memang tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini

  13. Mei 17, 2008 pukul 10:23 am

    AQU pikit semua itu adalah hal hal yang mendasar,bagi tiap tiap manusia yg merasa pintar dan hebat,intinya nya keterceraian diri pada prinsip idealis mnenjadikan pribadi manusia semakin kosong dan konyol……………THE LEGEND OF MAP……………………………………..

  14. Mei 17, 2008 pukul 11:14 am

    hatiku terenyuh membaca postingan ini dari kalimat pertama sampai penutup. kenapa manusia bisa mendegradasi sendiri martabatnya sehingga lebih buas daripada hewan pemangsa ?

    sejatinya, hewan pemangsa tidak pernah membunuh demi kematian. sebaliknya, demi kehidupannyalah dia membunuh kehidupan yang lain. kenapa manusia bisa membunuh demi kematian itu sendiri ? kenapa semakin banyak yang terjerumus menjadi nekrofil ?

    aku mau renungkan dulu pertanyaan itu. kalau nanti sudah ada jawabannya, aku akan kembali lagi dan menuliskannya di sini.

    Salam merdeka.

  15. Mei 18, 2008 pukul 8:44 pm

    Kenalan dulu aja deh!

  16. Mei 21, 2008 pukul 8:09 am

    Itulah manusia dari awal kehidupan sampai akhir kehidupan kita akan menemui manusia-manusia yang dikendalikan oleh syaitan. Dan saya melihat itu hanya salah satu kisah pilu yang terjadi di muka bumi ini. Saya yakin masih banyak cerita-cerita pilu lainnya yang terjadi di muka bumi ini. A’uzubillahhiminzalik

  17. 17 SQ
    Mei 22, 2008 pukul 12:06 am

    @ Natazya: Yup nobody perfect, but we should always try to do the best for humanity..thanx 4 the visit 🙂

    @ Realylife: kesempurnaa memang hanya milik tuhan bung realylife 🙂

    @ Haris Zaky Mubarak: “pribadi manusia semakin kosong dan konyol” patut ditelusuri lebih dalam tuh mas Haris 🙂

    @ Robert Manurung: Terima kasih bang Manurung, begitulah manusia, kadang ada masa-masa menjadi begitu “hitam”, tapi kadang bisa “seputih salju”. Hidup pula yang menempa turun naiknya fenomena manusia.
    Saya tunggu kunjungnnya lagi loo.. :mrgreen:

    @ Juliach: Salam kenal juga mbak 🙂

    @ Faujiah Herlina: Yup, itu hanyalah sepenggal kecil kisah di masa lalu bu Faujiah,diantara sekian banyaknya tragedi kemanusiaan lainnya. Sungguh tragis 😦 dan smoga kita dijauhkan darinya..amieen

  18. Mei 22, 2008 pukul 3:29 am

    aku pernah ngeliat juga hal-hal kayak itu di kotaku yang multi etnis, bayangkan dulu antar kelurahan yang berbeda etnis saja bisa perang celurit vs parang, tp itu dulu sekarang pangkalan bun sudah kondusif, thanks udah mampir ke blog ku

  19. Juli 14, 2008 pukul 10:21 am

    Waktu itu sore hari jam tiga, saya baru saja habis berkunjung kerumah tetangga, menghadiri selamatan

    kelahiran anak yang pertama

    Orang yang tinggal di Banjarmasin pada tahun 1997 dan mengalami atau menyaksikan Tragedi Jum’at Kelabu. Maka saya

    yakin, mereka akan sepakat bahwasanya hanya orang bodoh yang masih melaksanakan acara pada pukul 3 sore dimana

    kerusuhan sudah meledak pada pukul 2 waktu setempat. Bahkan mungkin sebelum itu sudah meledak.

    truk-truk besar berwarna kuning yang mengangkut segerombolan manusia, mereka berteriak-teriak riuh,

    tak jelas, dengan parang dan celurit teracung-acung di atas kepala.

    Selupa dan setidak ingat saya. Partai Tahi adalah Partai Pesakitan pada masa itu. Adalah mustahil mereka dan

    gerombolannya bisa mengobrak abrik jalan, dimana Partai Api dan Partai Daun bersatu padu memberangus Partai Tahi.

    Besoknya, saya berkunjung kerumah teman yang kakaknya sempat merekam peristiwa kerusuhan tersebut

    Pakai apa? yang jelas bukan kamera henpon bukan? Kalau begitu oleh minta dokumentasinya?

    Besoknya masih dibolehkan keluar sehari setelah pecah Tragedi 23 Mei? Luar biasa….

    pemerkosaan terhadap penduduk yang berbeda etnis

    Saya sudah mengumpulkan berbagai opini dari warga Banjarmasin tentang yang satu ini, namun selain urusan jarah, bakar, lucuti kain kuning dan hancurkan saya belum pernah dengar pemerkosaan. lagipula sebanyak apa sich etnis Nenek Moyangnya Andy Lau di Banjarmasin? Kalau memang ada, berarti sekian pulh kepala yang saya ajak diskusi mungkin terlalu buta untuk melewatkan peristiwa pemerkosaan tersebut.

    Saya menangkap adanya influence dari peristiwa Jakarta dalam postingan ini, bukan Banjarmasin . Jadi bagaimana itu Pak Penulis? Contoh diatas adalah fakta? Fiksi? atau gabungan keduanya Pak?

  20. Juli 14, 2008 pukul 10:22 am

    Bah. Moderasi….. halaman ini berarti saya printscreen sebagai barbbuk sementara buat saya

  21. Juli 20, 2008 pukul 6:09 pm

    Test Test. Komen saya kok kelamaan di moderasi Pak?

    Kalau ini komen lolos ya hapus sajalah, inikan cuma ngetest
    😛


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: